Itucerita malam jumat yang seram-seram, berikut ini cerita malam jumat yang enak-enak, yaitu tentang sunah rosul. Kang Diding dan istrinya setiap jumat pagi selalu bangun kesiangan. Beberapa kali kami janjian olahraga jalan pagi di istora jam 6 pagi, kang Diding baru muncul jam 9 pagi saat kami sudah selesai keliling istora senayan 8 kali.
Hariitu tepat malam Jumat 18 Desember kemarin. Jam sudah menunjukkan pukul 20.50 WIB. Seperti biasanya, setiap gerbong kereta Commuter Line jurusan Jakarta-Bogor selalu padat. Tak cuma di gerbong laki-laki, yang khusus perempuan pun sama. Tak ada keanehan saat kereta berangkat dari Stasiun Duren Tiga Kalibata Jakarta Selatan sekitar pukul 20.20 WIB.
Inginmencoba berinteraksi langsung dengan Stream nya Rasyid?Klik Link di bawah ini.↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓↓
MenurutNetizen dan banyak orang, jikalau soal seram, film Pengabdi Setan versi 1980 lebih seram meskipun kualitas gambarnya kurang baik jika dibandingkan dengan gambar di zaman sekarang yang menggunakan teknologi lebih baik. Film yang versi 2017 dan sekarang ini merupakan versi Reboot bukannya Remake, demikian pengakuan Joko Anwar di banyak media.
CeritaMalam Jumat. [Kumpulan cerpen] Cerita untuk menemani kalian 'yang masih sendiri' di malam Jumat. Cerita ini bukan cerita anuan, tapi cerita anu. Anu, loh , cerita yang serem gitu. Tapi kalau ngga kesereman juga ngga papa, ketawain aja, biar jadi lucu.
JURNALMEDAN - Berikut cerita horor sekelompok pemuda yang mandi tengah malam di Curug malah bertemu sosok kuntilanak. Cerita horor ini berawal dari Aji bersama sekelompok temannya yang ingin bermain ke sebuah Curug di daerah Sumedang. Ketika sampai di Curug tersebut tidak ada suatu keganjilan ataupun keanehan yang mereka alami hingga menjelang
CcAa. › Hiburan›Jerit Drupadi dalam Belitan... Putu Fajar Arcana mengambil potongan cerita dari epos Mahabharata, yakni tatkala Pandawa dikalahkan Kurawa di atas meja judi dan telanjur menjadikan istri mereka, Drupadi, sebagai taruhan. Tafsirnya menarik. KOMPAS/TOTOK WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas ini berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023,Seorang perempuan berbaju putih terjebak dalam labirin merah menyala. Dia bergerak dalam kebingungan dan sekonyong-konyong tersentak tatkala seorang pria kekar menariknya secara kasar. Perempuan itu meronta, tapi kalah kuat dan akhirnya takluk dalam keterpaksaan. Pada momen yang lain, seorang perempuan tersungkur lalu diseret secara paksa oleh pria-pria kekar berwajah seram. Perempuan itu melata-lata, menyaruk tanah dengan jeritan potongan adegan itu muncul dalam pementasan Teater Monolog Drupadi Apa karena Aku Perempuan di Gedung Kesenian Jakarta, Sabtu 3/6/2023. Adegan itu sekaligus mengingatkan pada peristiwa ketika Drupadi lari kebingungan berharap pertolongan, tetapi Pandawa diam seribu langkah karena menyadari Drupadi bukan hak mereka lagi. Pada saat yang sama, Kurawa merasa berkuasa atas diri Drupadi. Pementasan ini menyuguhkan metafora-metafora ketertindasan kaum perempuan dalam gambaran yang artistik tanpa meninggalkan pesan gugatannya. Baca jugaPanggung Teater, Rehat Perempuan PesisirPenulis naskah sekaligus sutradara Putu Fajar Arcana mengambil potongan cerita dari epos Mahabharata, yakni tatkala Pandawa dikalahkan Kurawa di atas meja judi dan telanjur menjadikan istri mereka, Drupadi, sebagai taruhan. Potongan cerita itu menjadi episode paling kelam dan memiliki ruang yang amat luas untuk ditafsir. Dari titik itulah Fajar memancing empati sekaligus membongkar persepsi terhadap nasib dan posisi Drupadi sama artinya menyinggung seluruh perempuan, lebih tepatnya perempuan yang selama ini tidak diberi akses untuk bersuara. Jumlahnya amat banyak. Mereka menjelma sebagai mayoritas bungkam, silent majority. Mereka menelan segala siksa, duka, dan nestapa dalam diam, bahkan hingga malaikat mau WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Putu malam itu menghidupkan Drupadi di atas panggung dan memberinya ruang untuk melaungkan seluruh suara hatinya yang selama ini terpendam. Drupadi lalu menjelma sebagai juru bicara perempuan yang memprotes seluruh penindasan atas dirinya. ”Mengapa selalu tubuhku dipertaruhkan. Adakah ia telah menjelma tubuh yang keliru sehingga para lelaki tanpa rasa bersalah mempertaruhkannya di meja judi?” kata Drupadi yang malam itu diperankan oleh Agung cerita dari epos yang lahir berabad-abad lalu itu masih sangat relevan dalam konteks hari ini. Dalam tatanan masyarakat yang patriarkis dan misoginis, perempuan kerap dianggap sebagai sesuatu something, bukan seseorang someone sehingga mereka diperjualbelikan, dilacurkan, dan ditukargantikan sebagaimana barang. Baru-baru ini, seorang gadis berusia 15 tahun diperkosa oleh tujuh pemuda di Gorontalo, lalu seorang pembantu rumah tangga dimasukkan ke dalam kandang anjing, dipukul, dan ditelanjangi majikannya. Terlalu panjang untuk menyebutkan kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan itu. Organisasi Kesehatan Dunia WHO mengungkap, sepertiga perempuan di dunia atau sekitar 736 juta jiwa pernah mengalami kekerasan, dari fisik sampai itu tidak akan pernah terjadi jika semua orang melihat bahwa perempuan dan pria mempunyai derajat yang sama. Sayangnya bukan itu yang terjadi. Pola pikir misoginis, yakni kecenderungan untuk membenci perempuan karena dianggap lebih rendah daripada pria tadi, begitu kuat tertanam. Faktor pengaruhnya amat banyak, mulai dari tafsir terhadap kitab suci yang keliru atau konstruksi WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas ini berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023.Bahkan, dalam membaca epos Mahabharata pun tak sedikit yang secara diam-diam ataupun lantang menuding Drupadi sebagai biang perang akbar Bharatayudha. Padahal jika ditilik lebih jauh, perang itu pecah tak lain karena ambisi dan keserakahan kaum pria. ”Bahkan seluruh pergolakan yang kamu tahu bernama Bharatayudha, semua ditimpakan kepadaku,” protes ulangRentetan keluh kesah Drupadi malam itu menyisakan kesan bahwa kita harus membangun ulang dalam memandang perempuan. Drupadi adalah ibu kita, adik perempuan kita, istri kita, atau anak-anak perempuan kita. Drupadi adalah seluruh perempuan di dalam kehidupan kita. Drupadi harus dilihat sebagai seseorang secara utuh atas segala hak-hak hidupnya sebagaimana Teater Monolog Drupadi dijalin dari anasir drama monolog, tarian, nyanyian, musik, dan tata teknologi modern dalam porsi yang setara. Dibuka dengan gesekan biola yang menyayat dan segera menghantar penonton pada suasana kesuraman batin. Disusul tarian dengan koreografi dan musik modern yang secara visual aman menawan. Kematangan Jasmine Okubo meracik gerakan benar-benar teruji dalam pentas malam itu. Delapan penari muda dari Bali begitu fasih dalam mengikuti iringan jugaPertunjukan Teater Tari RamayanaPorsi musik, tari, monolog, multimedia, dan lagu yang dihadirkan selang-seling selama sekitar 1 jam 16 menit itu begitu dinamis sehingga tidak membosankan. Tatkala monolog Agung Ocha mulai terasa terlampau panjang, muncul nyanyian atau tarian yang seolah menjadi jeda, tetapi bukan sekadar jeda karena di dalamnya mengandung pesan yang menyambung dengan monolog tadi. Misalnya, di tengah pementasan ketika Drupadi hampir 7 menit monolog, terdengar alunan musik lembut disusul Agung Ocha melantunkan lagu ciptaan Ayu Laksmi. Ayu menciptakan dua lagu yang liriknya ditulis Bli Can, sapaan akrab Putu Fajar WIJAYANTOArcana Foundation mementaskan Teater Monolog Drupadi karya sutradara Putu Fajar Arcana di Gedung Kesenian Jakarta, Pasar Baru, Jakarta Pusat, Jumat 2/6/2023. Pentas berlangsung hingga Sabtu 3/6/2023. Upaya kreatif Bli Can yang juga patut diapresiasi adalah ketika dia melakukan intertekstualitas. Potongan cerita Drupadi sebagaimana disinggung di atas diambil dari epos Mahabharata, tetapi dalam pementasan ini Bli Can memasukkan cerita dari Epos Ramayana. Itu dia sisipkan tatkala membuat metafora rencana Drupadi membalas karma dengan menggambarkan diri sebagai Marica yang menyamar menjadi kijang kencana menggoda Rama. Tujuannya agar Rama menjauh dari Sinta. Upaya intertekstualitas ini menjadi warna tersendiri sebagai variasi jugaPertunjukan Solidaritas Teater MandiriSebagai tontonan, Teater Monolog Drupadi amat menarik. Barang kali yang perlu ditilik ulang adalah cara ungkap Drupadi dalam menyampaikan ”suara” hatinya yang dalam beberapa bagian terkesan sebagai khotbah feminisme. Bukan hal yang buruk, tetapi barang kali kurang pas jika disampaikan dalam bentuk pentas begitu, pentas dengan semangat perlawanan Drupadi ini perlu diulang untuk membangun kesadaran baru dalam memandang perempuan sehingga belitan misogini itu pelan-pelan pergi.
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas. Hari ini hari kamis, kamis malam biasa disebut malam jumat, malam yang penuh dengan banyak cerita riwayat. Waktuku kecil, saat malam jumat, khususnya malam jumat kliwon, Saya dilarang keluar rumah malam-malam, Papa dan Mama mengatakan kalo malam jumat banyak hantu atau setan yang gentayangan dan akan menculik anak-anak yang masih berada di luar itu Saya percaya saja, makanya setiap malam jumat Saya diam di kamar, menonton TV yang warnanya hitam putih dan mendengarkan siaran radio atau mendengarkan lagu-lagu kesukaan melalui kaset yang kadang kala kusut. Anak jaman sekarang tidak mengalami masa-masa tersebut, saat ini televisi sudah layar datar dan besar sampai di atas 60 inch, gambarnya tajam penuh warna. Dengarkan lagu juga gak pakai kaset lagi, tapi tinggal donlot aja di internet atau pakai MP3, lagu apa aja ada, murah biayanya dan anti kusut. Nonton film juga tidak perlu pakai pemutar kaset, tinggal pilih di TV kabel langganan atau nonton di youtube atau nonton video yang ada di memory cerita seram yang diceritakan orang-orang dewasa ke kami, antara lain ; Kang Dudung cerita pernah bertemu setan pocong di bawah pohon kelapa. Kang Dudung dan setan pocong pandang-pandangan, akhirnya kang dudung lari tunggang langgang karena setan pocong berkata dan meminta tolong minta dibukakan tali pocongnya, soalnya tangannya terikat di dada, sehingga mau makan malam jadi susah masukin makanan ke Dadang cerita pernah bertemu kuntilanak di atas pohon Dadang heran koq ada wanita berambut panjang duduk di dahan pohon nangka malam-malam. Wanita tersebut tertawa cekikikan. Bukannya takut dan ambil langkah 1000, kang Dadang malah menghampiri wanita tersebut dan bertanya “mba, ngapain malam-malam main di atas pohon? Orang tua mba gak nyariin? Atau suami mba? Atau pacar mba?” Lalu wanita yang ternyata kuntilanak itu menjawab “Mas, ngapain malam jumat masih keliaran di luar? Gak takut ketemu setan atau hantu?”Kang Dadang sebel juga ke wanita itu, di Tanya bukannya jawab malah balik nanya, lalu kang Dadang berkata lagi “Saya sengaja keluar malam jumat, mau buktiin setan atau hantu itu ada apa gak? Kalo ada saya mau lihat, cantic atau tidak? Kalo jelek mau saya bunuh, kalo cantik mau saya kawinin.” Kuntilanak yang wajahnya tertutup rambut panjang yang menutupi wajahnya yang buruk rupa, kaget dan kuatir juga mendengar pernyataan Dudung. Dalam hati kuntilanak tersebut berkata “Wah, gawat nih. Aku bisa dibunuh pria ini. Mati lagi aku. Pergi aja deh dari sini, cari aman.” Dan tak sampai hitungan ke 3, kuntilanak tersebut pun pergi meninggalkan pohon nangka dan Dudung. Ia terbang menembus gelap malam dan rimbun pepohonan.” Itu cerita malam jumat yang seram-seram, berikut ini cerita malam jumat yang enak-enak, yaitu tentang sunah Diding dan istrinya setiap jumat pagi selalu bangun kesiangan. Beberapa kali kami janjian olahraga jalan pagi di istora jam 6 pagi, kang Diding baru muncul jam 9 pagi saat kami sudah selesai keliling istora senayan 8 kali. Dengan meminta maaf, kang Diding mengatakan “Maaf teman-teman, aku terlambat. Semalam sunah rosul sampai 3 kali, makanya bangun kesiangan.” Saya bertanya ke Kang Diding “Seru banget sunah rosul sampai 3x, kaya gak ada hari lain aja Kang?”Kang Diding menjawab “Bukan gak ada hari lain Ton, soalnya kami percaya Pancasila, terutama sila 3 yaitu Persatuan Indonesia. Jadi supaya kami terus bersatu sebagai suami istri, kami percaya dan mensugesti bahwa setiap malam jumat saat sunah rosul kita main sampai 3x.” Saya berkata lagi “Bisa aja kamu ngelesnya kamu kang?” Kang Diding “Kan kamu GURU ngelesnya Ton, wkwkwk” 1 2 Lihat Humaniora Selengkapnya
cerita seram di malam jumat