HakikatKehidupan Dunia. Bismillah.. Sekilas kehidupan dunia ini tampak indah mempesona jauh, tak dapat di jangkau, tapi benarkah ia indah seperti yang terlihat mata..?! Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.
HakikatDunia Sebagai Sarana Kebaikan Akhirat. 03 Sep 2021 09:34 WIB. 437. . Bagi orang beriman, tiada waktu yang boleh terlewat sedikit pun di dunia ini kecuali harus bernilai ibadah sebab dunia ladang akhirat. "Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu yaitu kebahagiaan negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
MemahamaiHakikat Karakteristik Kehidupan Dunia. admin March 21, 2021. Dalam menjalani kehidupan di dunia ini, seharusnya setiap manusia tahu dan paham akan karakter kehidupan di dunia yang sedang ia jalani. Sehingga dalam menjalani alur kehidupanya, ia merasakan arti disetiap detiknya. Oleh karena itu penting bagi setiap manusia
Untukmengetahuinya bagaimana sebenarnya hakikat dari kehidupan dunia dan akhirat, segala berita dan informasi dapat ditemukan secara tekstual baik dari Al Quran maupun Hadis Rasulullah Saw. Dalam agama Islam sendiri kehidupan dunia dan akhirat tidaklah bisa dipisahkan, hal ini bisa terlihat dari teks-teks keagamaan yang hampir selalu
Namun rasio manusia tidak kehilangan cahaya kala berbicara kematian. Sebab, ternyata kematian adalah satu jalan untuk manusia dapat terangkat semua hijab pandangan mata hatinya terhadap hakikat dari kebenaran dan kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu, Islam memberikan penjelasan bahwa kehidupan di dunia ini laksana pertanian menuju akhirat.
Sesungguhnyakampung akhirat adalah lebih baik, dan itulah sebaik-baik tempat bagi orang yang bertakwa." (QS an-Nahl [16]: 30). Dengan demikian, setelah manusia mengetahui akan hakikat kehidupan yang sebenarnya, mereka akan memberikan perhatian yang lebih besar pada kehidupan akhirat yang kekal daripada kehidupan dunia yang fana ini.
4PryiLW. Ada banyak hadis yang bisa dijadikan pedoman Umat Islam. Salah satunya hadis tentang kehidupan dari Rasulullah ini mengingatkan kita untuk menyeimbangkan kehidupan dunia dan sendiri merupakan perkataan, perbuatan, atau persetujuan Nabi Muhammad SAW, yang menjadi sumber hukum Islam setelah berfungsi untuk menjelaskan lebih rinci apa yang tidak dijelaskan dalam inilah yang menjadi alasan pentingnya hadis dalam Juga 7+ Aturan Islam dan Sunnah Bayi Baru Lahir, Jangan Diabaikan!Gambaran Kehidupan DuniaFoto Sedekah Foto Berbagi Benih Pohon Orami Photo StockDalam Islam, tujuan akhir perjalanan hidup manusia adalah mendapatkan segala bentuk kebaikan di akhirat adalah salah satu bentuk fase kehidupan yang akan dirasakan oleh manusia di antara beberapa fase kehidupan karena itu, dalam hadis tentang kehidupan, Rasulullah SAW mengingatkan manusia untuk tidak terlena dengan justru harus menyiapkan sebaik-baiknya bekal untuk akhirat nanti yang kekal studi Repository UIN Jakarta, gambaran kehidupan dunia dapat diklasifikasikan menjadi beberapa bentuk, yakniKehidupan dunia adalah kesenangan yang menipuKehidupan dunia adalah kesenangan yang sedikit dan bersifat sementaraBunga kehidupan dunia sebagai ujianRagam kesenangan kehidupan duniaPerumpamaan kehidupan dunia seperti air hujanPerintah mewaspadai kehidupan duniaDunia bukan tujuan hakikiKehidupan dunia membuat manusia lupa dari ingat kepada Allah SWTMencintai dunia dapat Juga 11 Hadis dan Ayat Alquran tentang Bersyukur, Masya Allah!Hadis tentang KehidupanRasulullah SAW menjelaskan hadis tentang kehidupan yang dapat menjadi pegangan umat Islam untuk melalui kehidupan di dunia dengan di antaranya yakni1. Hadis tentang Kehidupan yang SementaraUntuk mengisyaratkan kehidupan di dunia, dalam sebuah hadis Rasulullah SAW bersabdaوَاللهِ ، مَا الدُّنْيَا فِـي الْآخِرَةِ إِلَّا مِثْلُ مَا يَـجْعَلُ أَحَدُكُمْ إِصْبَعَهُ هٰذِهِ – وَأَشَارَ يَحْيَ بِالسَّبَّابَةِ – فِـي الْيَمِّ ، فَلْيَنْظُرْ بِمَ تَرْجِـعُArtinya “Demi Allâh! Tidaklah dunia dibandingkan akhirat melainkan seperti salah seorang dari kalian mencelupkan jarinya ke laut, perawi hadits ini yaitu Yahya memberikan isyarat dengan jari telunjuknya- lalu hendaklah dia melihat apa yang dibawa jarinya itu?” HR Muslim dan Ibnu Hibbân2. Hadis tentang Kehidupan yang HinaDalam hadis shahih lainnya, diriwayatkan bahwa Rasulullah SAW berjalan melewati pasar, sementara banyak orang berada dekat kemudian berjalan melewati bangkai anak kambing jantan yang kedua telinganya memegang telinganya, beliau bersabdaأَيُّكُمْ يُحِبُّ أَنَّ هَذَا لَهُ بِدِرْهَمٍ؟ فَقَالُوْا مَا نُحِبُّ أَنَّهُ لَنَا بِشَيْءٍ وَمَا نَصْنَعُ بِهِ؟ قَالَ أَتُحِبُّوْنَ أَنَّهُ لَكُمْ؟ قَالُوْا وَاللهِ لَوْ كَانَ حَيًّا كَانَ عَيْبًا فِيْهِ، لِأَنَّهُ أَسَكُّ. فَكَيْفَ وَهُوَ مَيِّتٌ؟ فَقَالَ فَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْ Artinya “Siapa di antara kalian yang berkenan membeli ini seharga satu dirham?” Orang-orang berkata, “Kami sama sekali tidak tertarik kepadanya. Apa yang bisa kami perbuat dengannya?”Beliau bersabda, “Apakah kalian mau jika ini menjadi milik kalian?” Orang-orang berkata, “Demi Allâh, kalau anak kambing jantan ini hidup, pasti ia cacat, karena kedua telinganya kecil, apalagi ia telah mati?”Beliau kemudian bersabdaفَوَاللهِ لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذَا عَلَيْكُمْArtinya “Demi Allâh, sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allâh daripada bangkai anak kambing ini bagi kalian.” HR MuslimBaca Juga Meditasi dalam Islam, Bagaimana Hukumnya?3. Hadis tentang Kehidupan yang Bukan Menjadi Tujuanاللهملَا تَجْعَلْ الدُّنْيَا أَكْبَرَ هَمِّنَا وَلَا مَبْلَغَ عِلْمِنَاArtinya “Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia menjadi perhatian utama kami serta batas pengetahuan kami.” HR TirmiziDalam hadis ini menunjukkan bahwa dunia hanyalah perhentian sementara, dan akhirat menjadi perhatian ini menjadi motivasi untuk berbuat kebaikan sebagai bekal menjalani kehidupan Hadis tentang Kehidupan Dunia dan Akhiratعن أنس بن مالك -رضي الله عنه- أن النبي -صلى الله عليه وسلم- قال اللَّهُمَّ لاَ عَيْشَ إلا عَيْشَ الآخِرة-متفق عليArtinya “Dari Anas Bin Malik RA bahwa Nabi SAW bersabda Ya Allah! Tidak ada kehidupan selain kehidupan akhirat." HR Muttafaqun 'alaihDalam hadis ini diungkapkan bahwa kehidupan yang nikmat, menyenangkan, dan abadi adalah kehidupan dunia meskipun nikmat, namun akan berujung pada Juga 10 Hak Ibu dalam Islam, Sudahkah Terpenuhi?5. Hadis tentang Kehidupan Akhirat sebagai TujuanDari Zaid bin Tsabit RA, dirinya berkata telah mendengar Rasulullah SAW bersabda مَنْ كانت الدنيا هَمَّهُ فَرَّق الله عليه أمرَهُ وجَعَلَ فَقْرَهُ بين عينيه ولم يَأْتِه من الدنيا إلا ما كُتِبَ له، ومن كانت الآخرةُ نِيَّتَهُ جَمَعَ اللهُ له أَمْرَهُ وجَعَلَ غِناه في قَلْبِه وأَتَتْهُ الدنيا وهِيَ راغِمَةٌArtinya “Barangsiapa yang menjadikan dunia tujuan utamanya, maka Allah akan mencerai-beraikan urusannya dan menjadikan kemiskinan atau tidak pernah merasa cukup selalu ada di hadapannya, padahal dia tidak akan mendapatkan harta benda duniawi melebihi dari apa yang Allah tetapkan barangsiapa yang menjadikan akhirat niat tujuan utama-nya maka Allah akan menghimpunkan urusannya, menjadikan kekayaan atau selalu merasa cukup ada dalam hatinya, dan harta benda duniawi datang kepadanya dalam keadaan rendah, hina tidak bernilai di hadapannya.” HR Ibnu Majah dan Ibnu Hiban6. Hadis tentang Kehidupan dan Amal Jariyahعن أبي هريرة رضي الله عنه أن النبي صلى الله عليه وسلم قال إذَا مَاتَ الإِنْسَانُ انْقَطَعَ عَمَلُهُ إلاَّ مِنْ ثَلاَثَةِ إِلاَّ مِنْ صَدَقَةٍ جَارِيَةٍ، أَوْ عِلْمٍ يُنْتَفَعُ بِهِ، أَوْ وَلَدٍ صَالِحٍ يَدْعُو لَهُArtinya Dari Abu Hurairah RA meriwayatkan bahwa Rasulullah SAW bersabda. “Apabila anak cucu Adam telah meninggal dunia, maka terputuslah pahala amalnya. Kecuali tiga perkara, yaitu sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya.” HR MuslimIni menunjukkan bahwa amal jariyah atau amalan yang tidak pernah putus hingga dirinya meninggal dunia ada tiga hal itulah yang menjadi sebaik-baiknya tabungan bekal di Juga 12 Doa Membersihkan Hati serta AmalannyaItulah beberapa hadis tentang kehidupan yang dapat meningkatkan keimanan umat perbanyak amal kebaikan di dunia untuk menabung bekal di akhirat.
HAKIKAT DUNIAOleh Ustadz Abu Isma’il Muslim al-AtsariManusia yang mengamati dirinya dan orang-orang di sekitarnya, akan mengetahui dengan dengan pasti tentang berbagai kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Dia memahami bahwa kehidupannya di dunia melewati fase-fase yang pasti dilewati dan tidak bisa dipungkiri jika dia berumur panjang. Sebelumnya dia tidak ada, kemudian lahir ke dunia sebagai bayi, lalu menjadi bocah anak kecil, muda, dewasa, tua, dan akhirnya ajal menjemputnya. Allah Azza wa Jalla berfirmanكَيْفَ تَكْفُرُونَ بِاللَّهِ وَكُنْتُمْ أَمْوَاتًا فَأَحْيَاكُمْ ۖ ثُمَّ يُمِيتُكُمْ ثُمَّ يُحْيِيكُمْ ثُمَّ إِلَيْهِ تُرْجَعُونَMengapa kamu kafir kepada Allah, padahal kamu tadinya mati, lalu Allah menghidupkan kamu, kemudian kamu dimatikan dan dihidupkan-Nya kembali, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan? [al-Baqarah/228]Imam Baghawi rahimahullah berkata, “Kemudian Allah Azza wa Jalla berkata kepada orang-orang musyrik Arab dengan bentuk keheranan Mengapa kamu kafir kepada Allah’, setelah penegakkan bukti-bukti dan kejelasan keterangan-keterangan. Kemudian Allah Azza wa Jalla menyebutkan bukti-bukti padahal kamu tadinya mati’, dalam bentuk setetes mani di dalam tulang sulbi bapak kamu, lalu Allah menghidupkan kamu,’ di dalam rahim dan di dunia, kemudian kamu dimatikan’, ketika habis ajal kamu dan dihidupkan-Nya kembali’, untuk kebangkitan setelah kematian, kemudian kepada-Nya-lah kamu dikembalikan?’, kamu akan datang di akhirat, lalu Allah Azza wa Jalla akan membalas perbuatan-perbuatan kamu”. [Tafsîr al-Baghawi 1/77]KEMATIAN PASTI DATANG Bagaimanapun manusia berusaha lari dari kematian, kematian itu pasti akan menjemputnya di manapun dia berada. Walaupun dia berada di dalam gedung yang tinggi dan Azza wa Jalla تَكُونُوا يُدْرِكْكُمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنْتُمْ فِي بُرُوجٍ مُشَيَّدَةٍDi mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh. [an-Nisâ’/478]Imam Ibnu Katsîr rahimahullah berkata, “Maksudnya bahwa semua orang akan mati, tidak ada pilihan, tidak ada sesuatupun yang akan menyelamatkannya dari kematian, sama aja apakah seseorang itu berjihad atau tidak. Karena sesungguhnya manusia itu memiliki ajal yang telah ditetapkan dan waktu yang telah dibagikan. Sebagaimana Khâlid bin Walîd Radhiyallahu anhu berkata ketika kematian menjemputnya di atas tempat tidur, Sesungguhnya aku telah menghadiri sekian peperangan, tidak ada satu pun dari anggota badanku yang tidak terdapat luka dari sebab tikaman tombak atau lemparan anak panah. Namun sekarang aku akan mati di atas tempat tidurku, sedangkan mata para pengecut tidak bisa tidur’.” [Tafsîr Ibnu Katsîr, 2/360]Juga firmanNya. قُلْ إِنَّ الْمَوْتَ الَّذِي تَفِرُّونَ مِنْهُ فَإِنَّهُ مُلَاقِيكُمْ ۖ ثُمَّ تُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُمْ بِمَا كُنْتُمْ تَعْمَلُونَKatakanlah “Sesungguhnya kematian yang kamu lari daripadanya, maka sesungguhnya kematian itu akan menemui kamu, kemudian kamu akan dikembalikan kepada Allah, yang mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia beritakan kepadamu apa yang telah kamu kerjakan”. [al-Jum’ah/628]Maka kita selalu melihat kematian mendatangi setiap orang yang telah Allah Azza wa Jalla tentukan. Sama saja, baik kepada orang kaya atau miskin, raja atau rakyat jelata, sehat sentosa atau selalu sakit saja, orang tak dikenal atau bintang INI FANA Itulah hakekat dunia ini, yaitu fana dan sementara. Allah Azza wa Jalla mengingatkan semua manusia tentang hal ini di dalam banyak tempat di dalam al-Qur’ân, antara lain firman Allah اعْلَمُوا أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِKetahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak. Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat nanti ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu. [al-Hadîd/5720]Imam al-Alûsi rahimahullah berkata, “Setelah Allah Azza wa Jalla menjelaskan keadaan dua kelompok manusia yaitu orang-orang yang beriman dan orang-orang kafir pada ayat 19-pent, Allah Azza wa Jalla menjelaskan keadaan kehidupan kelompok kedua yaitu orang-orang kafir yang merasa tentram dengan dunia, dan disebutkan bahwa kehidupan dunia itu termasuk perkara-perkara kecil yang tidak akan membuat orang-orang yang berakal condong dan tenteram kepadanya. Dunia ini permainan’ yang tidak ada hasilnya kecuali capai, dan suatu yang melalaikan’, melalaikan manusia dari perkara yang bermanfaat dan penting baginya, dan perhiasan’ yang tidak akan menghasilkan kemuliaan hakiki, seperti pakaian-pakaian yang indah dan kendaraan-kendaraan yang bagus serta rumah-rumah yang tinggi, dan bermegah- megah antara kamu’ dengan nasab dan tulang-tulang yang telah lapuk, serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak’, dengan jumlah dan persiapan. Kemudian Allah Azza wa Jalla menjelaskan bahwa bersamaan dengan itu, dunia itu cepat binasa dan segera hancur Seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani’, demikian juga perhiasan dunia sangat mengagumkan orang-orang kafir. Adapun seorang yang beriman, jika melihat perkara yang mengagumkan, maka fikirannya akan tertuju kepada kekuasaan Penciptanya Azza wa Jalla, sehingga dia menjadi kagum terhadap kekuasaan Allah Azza wa Jalla . Sedangkan orang kafir, fikirannya tidak melampaui apa yang dia lihat, sehingga warna-warni dunia membuatnya tenggelam di dalam kekaguman. Kemudian tanaman itu menjadi kering’, bergerak menuju akhirnya, yaitu menjadi kering setelah sebelumnya warmanya hijau dan indah. Dan kamu lihat warnanya kuning’ yang sebelumnya kamu melihatnya indah dan elok, kemudian menjadi hancur’, remuk karena Azza wa Jalla memisalkan waktu yang telah dilalui oleh manusia dengan dengan satu tumbuhan yang tumbuh dari karena air hujan, kemudian hancur dan binasa kurang dari satu tahun. Ini mengisyaratkan alangkah cepat dan dekat kehancurannya. Setelah Allah Azza wa Jalla menjelaskan kehinaan dunia ini dan memerintahkan manusia agar menganggap kecil urusan dunia dan menjauh diri agar tidak tenggelam di dalamnya, Allah Azza wa Jalla menjelaskan keagungan urusan akhirat, mengagungkan kelezatan dan kepedihan siksa di akhirat agar mendorong manusia meraih kenikmatannya yang abadi dan memperingatkan siksanya yang pedih. Allah Azza wa Jalla berfirman, Dan di akhirat nanti ada azab yang keras’, Allah Azza wa Jalla menyebutkan siksa lebih dahulu karena hal ini sebagai akibat tenggelam di dalam keadaan-keadaan kehidupan dunia yang telah dijelaskan, dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya’. Penyebutan siksa yang pedih di hadapan dua perkara ampunan dari Allah k dan keridhaan-Nya; demikian juga penyebutan siksa yang pedih’ tanpa menyebutkan dari Allah Azza wa Jalla , mengisyaratkan kepada dominannya rahmat Allah Azza wa Jalla dan bahwa tujuan yang utama adalah kebaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu’, yaitu bagi orang yang merasa tentram terhadap dunia dan tidak menjadikan kehidupan dunia ini sebagai sarana untuk kebaikan akhirat dan alat untuk meraih kenikmatannya. Diriwayatkan bahwa Sa’îd bin Jubair Radhiyallahu anhu mengatakan, “Dunia itu adalah kesenangan yang menipu, jika dunia melalaikanmu dari mencari akhirat. Namun jika dunia itu mengajakmu untuk mencari ridha Allah Azza wa Jalla dan mencari kebaikan akhirat, maka dunia itu sebaik-baik kesenangan dan sarana”. [Diringkas dari Tafsîr Rûhul Ma’âni, 20/335]KEUTAMAAN AKHIRAT Nabi Shallallahu alaihi wa sallam banyak menyebutkan kenikmatan dan keutamaan akhirat yang sangat besar dibandingkan kesenangan di dunia ini. Di antaranya adalah hadits di bawah iniعَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُودٍ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِنِّي َلأَ عْلَمُ آخِرَ أَهْلِ النَّارِ خُرُوجًا مِنْهَا وَآخِرَ أَهْلِ الْجَنَّةِ دُخُولاً الْجَنَّةَ رَجُلٌ يَخْرُجُ مِنْ النَّارِ حَبْوًا فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ تَبَارَكَ وَتَعَالَى لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ قَالَ فَيَأْتِيهَا فَيُخَيَّلُ إِلَيْهِ أَنَّهَا مَلْأَى فَيَرْجِعُ فَيَقُولُ يَا رَبِّ وَجَدْتُهَا مَلْأَى فَيَقُولُ اللَّهُ لَهُ اذْهَبْ فَادْخُلْ الْجَنَّةَ فَإِنَّ لَكَ مِثْلَ الدُّنْيَا وَعَشَرَةَ أَمْثَالِهَا أَوْ إِنَّ لَكَ عَشَرَةَ أَمْثَالِ الدُّنْيَا قَالَ فَيَقُولُ أَتَسْخَرُبِي أَوْ أَتَضْحَكُ بِي وَأَنْتَ الْمَلِكُ قَالَ لَقَدْ رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ضَحِكَ حَتَّى بَدَتْ نَوَاجِذُهُ قَالَ فَكَانَ يُقَالُ ذَاكَ أَدْنَى أَهْلِ الْجَنَّةِ مَنْزِلَةًDari `Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu , dia berkata Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Aku benar-benar mengetahui seorang penduduk neraka yang paling akhir keluar darinya dan seorang penduduk surga yang paling akhir masuk ke dalam surga. Yaitu seorang laki-laki yang keluar dari neraka dengan keadaan merangkak, lalu Allah berkata kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga!’.Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka dia kembali lalu berkata, Wahai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh.’ Allah Azza wa Jalla berkata kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga!’.Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda Lalu dia mendatangi surga, namun dikhayalkan kepadanya bahwa surga telah penuh. Maka dia kembali lalu berkata, Wahai Rabbku, aku mendapati surga telah penuh.’Allah Azza wa Jalla berkata lagi kepadanya, Pergilah, masuklah ke dalam surga! Sesungguhnya engkau memiliki semisal dunia dan sepuluh kalinya, atau engkau memiliki sepuluh kali dunia’. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda Laki-laki itu berkata, Apakah Engkau memperolok-olok aku atau Engkau mentertawakan aku padahal Engkau adalah Raja?’Abdullâh bin Mas’ûd Radhiyallahu anhu berkata, Aku melihat Rasulullâh Shallallahu alaihi wa sallam tertawa sampai nampak gigi gerahamnya’. Dan dikatakan bahwa orang itu adalah penduduk surga yang paling rendah derajatnya’. HR. Muslim, no. 308/186BERLOMBA DI DALAM KEBAIKAN Jika manusia telah mengetahui hakekat dunia yang fana ini, maka selayaknya dia selalu ingat dan waspada, jangan sampai tergoda kenikmatan dunia yang sementara, kemudian melalaikan akhirat yang sangat berharga. Sepantasnya manusia berlomba melakukan ketaatan-ketaatan dan meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan untuk meraih kebaikan akhirat. Oleh karena itu Allah Azza wa Jalla berfirman سَابِقُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا كَعَرْضِ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ أُعِدَّتْ لِلَّذِينَ آمَنُوا بِاللَّهِ وَرُسُلِهِ ۚ ذَٰلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِيهِ مَنْ يَشَاءُ ۚ وَاللَّهُ ذُو الْفَضْلِ الْعَظِيمِBerlomba-lombalah kamu kepada mendapatkan ampunan dari Rabbmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi, yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah, diberikan-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya. dan Allah mempunyai karunia yang besar. [al-Hadîd/57 21]Juga sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla. وَسَارِعُوا إِلَىٰ مَغْفِرَةٍ مِنْ رَبِّكُمْ وَجَنَّةٍ عَرْضُهَا السَّمَاوَاتُ وَالْأَرْضُ أُعِدَّتْ لِلْمُتَّقِينَDan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Rabbmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan untuk orang-orang yang bertakwa. [Ali Imrân/3133]Kita mendapat teladan luar biasa dari Salafus Shalih di dalam hal berlomba di dalam kebaikan. Sangat banyak contoh yang dapat ditiru dari perbuatan mereka. Seperti disebutkan di dalam riwayat di bawah iniأَنَّ فُقَرَاءَ الْمُهَاجِرِيْنَ أَتَوْا رَسُوْلَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا ذَهَبَ أَهْلُ الدُّثُوْرِ بِالدَّرَجَاتِ الْعُلَى وَالنَّعِيمِ الْمُقِيمِ فَقَالَ وَمَا ذَاكَ قَالُوْا يُصَلُّونَ كَمَا نُصَلِّيْ وَيَصُوْمُونَ كَمَا نَصُومُ وَيَتَصَدَّقُونَ وَلاَ نَتَصَدَّقُ وَيُعْتِقُونَ وَلاَ نُعْتِقُ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَفَلاَ أُعَلِّمُكُمْ شَيْئًا تُدْرِكُوْنَ بِهِ مَنْ سَبَقَكُمْ وَتَسْبِقُونَ بِهِ مَنْ بَعْدَكُمْ وَلاَ يَكُونُ أَحَدٌ أَفْضَلَ مِنْكُمْ إِلاَّ مَنْ صَنَعَ مِثْلَ مَا صَنَعْتُمْ قَالُوْا بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ قَالَ تُسَبِّحُوْنَ وَتُكَبِّرُوْنَ وَتَحْمَدُوْنَ دُبُرَ كُلِّ صَلاَةٍ ثَلاَثًا وَثَلاَثِيْنَ مَرَّةً قَالَ أَبُوْصَالِحٍ فَرَجَعَ فُقَرَاءُ الْمُهَاجِرِيْنَ إِلَى رَسُوْلِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالُوْا سَمِعَ إِخْوَانُنَا أَهْلُ اْلأَمْوَالِ بِمَا فَعَلْنَا فَفَعَلُوْا مِثْلَهُ فَقَالَ رَسُوْلُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ذَلِكَ فَضْلُ اللَّهِ يُؤْتِهِ مَنْ يَشَاءُBahwa orang-orang miskin dari kalangan Muhâjirîn berkata, “Wahai Rasulullah, orang-orang kaya telah memborong derajat yang tinggi dan kenikmatan abadi”. Beliau Shallallahu alaihi wa sallam bertanya, “Kenapa begitu?” Mereka menjawab, “Mereka itu melakukan shalat sebagaimana kami melakukan shalat; mereka berpuasa sebagaimana kami berpuasa; mereka bersedekah, sedangkan kami tidak bersedekah; mereka memerdekakan budak, sedangkan kami tidak memerdekakan budak”. Nabi Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Maukah aku tunjukkan kamu sesuatu, jika kamu mengerjakannya kamu mendahului orang-orang selainmu dan tidak ada seorang pun yang lebih utama dari kamu, kecuali orang yang melakukan semisal yang kamu lakukan ? Yaitu kamu bertasbîh, bertakbîr, bertahmîd 33 kali setelah selesai setiap shalat”. Orang-orang miskin itu menghadap lagi kemudian mengatakan, “Saudara-saudara kami, orang-orang kaya, mendengar apa yang telah kami lakukan, lalu mereka melakukan semisalnya! Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda, “Itu adalah karunia Allah yang Dia berikan kepada siapa yang Dia kehendaki”. [HR. al-Bukhâri, 843; Muslim, no. 595]Sebagian Ulama memberikan contoh-contoh berlomba di dalam kebaikan sebagai berikutDiriwayatkan bahwa Anas Radhiyallahu anhu berkata, “Saksikan takbîratul ihrâm bersama imam di dalam shalat jama’ah!”Diriwayatkan bahwa Ali Radhiyallahu anhu berkata, “Hendaklah engkau menjadi orang yang pertama masuk masjid, dan orang yang terakhir keluar.” [Tafsîr Bahrul Muhîth 10/228]Demikianlah para pendahulu kita yang shalih, bagaimana dengan kita? Hanya Allah Azza wa Jalla tempat memohon pertolongan.[Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 09/Tahun XIII/1430H/2009M. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta, Jl. Solo-Purwodadi Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. 0271-858197 Fax 0271-858196]
Oleh ABDILLAHOLEH ABDILLAH Manusia hidup di dunia mengemban tugas sebagai hamba. Ada misi yang perlu direalisasikan. Tanggung jawab yang harus diemban. Amanah hidup yang senantiasa dijaga. Sebagai bentuk tanggung jawab karena sudah diberikan kehidupan, manusia harus mengabdikan dirinya kepada Sang Pencipta. Allah SWT berfirman “Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku” QS az-Zariyat 56. Kehadiran kita di dunia bukan kebetulan, tapi sudah kehendak Allah yang harus disyukuri. Karena hidup adalah amanah, maka perlu diisi dengan sesuatu yang baik. Dunia ini fana. Manusia cepat atau lambat akan meninggalkan kehidupan. Oleh karena itu, jangan sia-siakan kehidupan saat ini. Fadilah mukmin yang mengetahui dan menyadari makna kehidupan di dunia. Muslim yang mengetahui hakikat kehidupan di dunia akan senantiasa melakukan introspeksi terhadap seluruh perbuatan, sikap, dan ucapannya. Muhasabah diri dianjurkan dalam Islam. Allah SWT berfirman ”Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok akhirat, dan bertakwalah kepada Allah. Sungguh, Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan” QS al-Hasyr 18. Mewawas diri akan membuat seseorang mengetahui kelemahan dan kekurangannya dan kemudian berusaha memperbaikinya. Mari kita telisik dan jujur terhadap diri kita. Apakah tindakan kita sudah banyak yang sesuai dengan perintah agama atau malah sebaliknya? Mewawas diri akan membuat seseorang mengetahui kelemahan dan kekurangannya dan kemudian berusaha memperbaikinya. Jika sebelumnya kita jarang bersedekah dan berbuat baik kepada sesama, maka setelahnya kita harus berusaha untuk mengubah perilaku menjadi lebih baik. Kebahagian dunia dan akhirat hanya untuk mereka yang selalu memperbaiki amal ibadahnya. Selanjutnya, mukmin yang memahami hakikat hidup akan mengorientasikan kehidupan dunia untuk akhirat. Semua perbuatannya ditujukan hanya kepada Allah semata. Pada akhirnya, semua aktivitas hidupnya akan diorientasikan untuk kebaikan. Karena akhirat adalah tujuannya, maka apa pun pekerjaannya di dunia, baik pedagang, petani, pengajar, maupun profesi lainnya akan dijadikan sebagai wasilah mendapatkan ridha Allah SWT. Ada perkataan ulama dalam kitab Ta’limul Muta’alim yang sangat menyentuh sekaligus menyadarkan kita. “Banyak sekali amal yang seakan-akan merupakan amal dunia semata menjadi amalan akhirat dengan niat yang baik. Begitu pun sebaliknya, ada banyak amalan yang seakan-akan amalan akhirat menjadi amalan dunia karena niat yang salah.” Wallahu a’lam.
Sungguh hal yang begitu mengherankan, dengan masih banyaknya manusia yang lebih memilih kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat. Sedangkan dunia bukanlah bandingan yang sepadan dengan Aya Ummu – Sesungguhnya Allah telah menerangkan, bahwa manusia mempunyai dua kehidupan. Yaitu kehidupan sementara di dunia yang akan segera berakhir, juga kehidupan akhirat yang kekal dan hakiki. Kehidupan dunia yang fana, adalah kehidupan yang penuh dengan berbagai keburukan, kecuali apa-apa yang digunakan dalam rangka beribadah kepada Allah. Sungguh kehidupan dunia ini, sejatinya hanya sebuah ujian dan gemerlap dunia yang tampak, sejatinya hanya kekeruhan yang jauh dari kata jernih. Apabila kita mau menggunakan akal kita untuk memperhatikan walau sekilas, pasti kita akan tahu betapa kecil dan hina dunia ini. Dan kita pun akan sadar bahwa dunia ini penuh tipu daya. Bagi pemuja dunia, dunia tak ubahnya hanya fatamorgana yang dikira air oleh orang yang sedang haus. Ketika ia terus mengejarnya, ia akan dapat bahwa ternyata ia tak akan mendapatkan apapun dunia nampak begitu mempesona dengan segala perhiasannya, manusia pun mengira ia akan dapat menggenggamnya. Pada saat itu, turun ketetapan Allah kepada mereka di waktu siang ataupun malam. Seakan tak pernah ada sesuatu pun sebelumnya, tiba-tiba semua musnah tak berbekas, hancur lebur tanpa أَنَّمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا لَعِبٌ وَلَهْوٌ وَزِينَةٌ وَتَفَاخُرٌ بَيْنَكُمْ وَتَكَاثُرٌ فِي الْأَمْوَالِ وَالْأَوْلَادِ ۖ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَعْجَبَ الْكُفَّارَ نَبَاتُهُ ثُمَّ يَهِيجُ فَتَرَاهُ مُصْفَرًّا ثُمَّ يَكُونُ حُطَامًا ۖ وَفِي الْآخِرَةِ عَذَابٌ شَدِيدٌ وَمَغْفِرَةٌ مِنَ اللَّهِ وَرِضْوَانٌ ۚ وَمَا الْحَيَاةُ الدُّنْيَا إِلَّا مَتَاعُ الْغُرُورِ“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-bangga dengan banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian hancur. Dan di akhirat nanti ada adzab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” QS. Al-Hadîd 20Sedangkan kehidupan akhirat adalah kehidupan yang sebenarnya. Yang menyimpan segala pilar kehidupan, baik kekekalan maupun kebahagiaan juga keselamatan. Inilah hakikat kehidupan akhirat. Jika manusia dapat menyaksikan hakikatnya, pastia ia akan berkata يَا لَيْتَنِي قَدَّمْتُ لِحَيَاتِي“Alangkah baiknya kiranya aku dahulu mengerjakan amal saleh untuk hidupku ini.” QS. Al-Fajr 24Inilah kehidupan akhirat, kehidupan abadi di mana manusia akan hidup selama-lamanya dan tak akan pernah mati. Sebagaimana firman Allah Subhanahu wa Ta’aalaفَمَنْ ثَقُلَتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ هُمُ الْمُفْلِحُونَ وَمَنْ خَفَّتْ مَوَازِينُهُ فَأُولَٰئِكَ الَّذِينَ خَسِرُوا أَنْفُسَهُمْ فِي جَهَنَّمَ خَالِدُونَ تَلْفَحُ وُجُوهَهُمُ النَّارُ وَهُمْ فِيهَا كَالِحُونَBarang siapa yang berat timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung. Dan barang siapa yang ringan timbangan kebaikannya, maka mereka itulah orang-orang yang merugikan dirinya sendiri, mereka kekal di dalam neraka Jahannam. Muka mereka dibakar api neraka, dan mereka di dalam neraka itu dalam keadaan cacat. QS. Al-Mukminun 102 -104Kehidupan yang setiap kenikmatan yang didambakan oleh jiwa ada di sana. Yang menyejukkan setiap pandangan. Ia adalah Darus-Salam, terbebas dari segala kekurangan dan keburukan, kesusahan dan kecemasan, bersih dari ketakutan dan segala bahaya, bebas dari segala penyakit, bahkan sebuah hadits, Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabdaلَمَوْضِعُ سَوْطِ أَحَدِكُمْ فِي الْجَنَّةِ خَيْرٌ مِنْ الدُّنْيَا وَمَا فِيهَاSungguh tempat cambuk salah seorang kalian di surga itu lebih baik dari pada dunia seisinya. HR. Al-Bukhari no. 3011Masya Allah, apabila sebuah cambuk saja lebih baik dari dunia dan isinya, lalu berapakah nilai dunia yang kita capai? Sedangkan hidup kita di dunia hanya sebentar saja. Bagaimana dengan bangunan-bangunan di surga? Gedung-gedungnya? Dan semua kenikmatannya? Sungguh hal yang begitu mengherankan, dengan masih banyaknya manusia yang lebih memilih kehidupan dunia dibanding kehidupan akhirat. Sedangkan dunia bukanlah bandingan yang sepadan dengan a’lamPicture Source by GoogleDisclaimer adalah media independent tanpa teraliansi dari siapapun dan sebagai wadah bagi para penulis untuk berkumpul dan berbagi karya. melakukan seleksi dan berhak menayangkan berbagai kiriman Anda. Tulisan yang dikirim tidak boleh sesuatu yang hoaks, berita kebohongan, hujatan, ujaran kebencian, pornografi dan pornoaksi, SARA, dan menghina kepercayaan/agama/etnisitas pihak lain. Pertanggungjawaban semua konten yang dikirim sepenuhnya ada pada pengirim tulisan/penulis, bukan Silakan mengirimkan tulisan anda ke email narasipostmedia Reading
Jakarta, IDN Times - Umat Islam hendaknya meyakini bahwa dunia bukanlah satu-satunya alam yang menjadi tempat tinggal bagi manusia. Masih ada alam lain yang akan disinggahi oleh manusia hingga hari kiamat melewati alam dunia, manusia akan bertemu alam kubur yang menjadi gerbang batas antara kehidupan dunia dan kehidupan akhirat. Alam kubur menjadi tempat tinggal orang-orang yang sudah meninggal hingga datangnya hari kiamat Ali Mustafa Yakub dalam buku Fatwa Imam Besar Masjid Istiqlal menjelaskan, terdapat tiga alam yang berkaitan dengan posisi manusia dengan ruhnya. Ketiga alam tersebut yaitu alam barzah, alam dunia, dan alam akhirat. Seperti apa gambaran ketiga alam tersebut ? Berikut perbedaan alam barzah, dunia dan akhirat yang dirangkum IDN Times. Baca Juga Hal-Hal yang Dilakukan Saat Hadapi Orang Sakaratul Maut dan Meninggal 1. Alam dunia sebagai tempat ujian bagi manusiaIlustrasi Bumi IDN Times/Mardya Shakti Hakikat kehidupan dunia sebenarnya adalah ujian bagi manusia seberapa mampu bisa menjalankan perintah Allah SWT. Dunia sesungguhnya menjadi tempat manusia untuk berlomba mengumpulkan amal kebaikan, seperti yang difirmankan Allah SWT di Surah Al Kahfi ayat 7, sebagai berikut إِنَّا جَعَلْنَا مَا عَلَى الْأَرْضِ زِينَةً لَهَا لِنَبْلُوَهُمْ أَيُّهُمْ أَحْسَنُ عَمَلًاArtinya Sesungguhnya Kami telah jadikan segala yang ada di bumi ini untuk perhiasan bagi bumi itu sendiri dan penghuninya, untuk menguji siapakah di antara mereka yang paling baik amalnya. QS al-Kahfi 7Di dunia ini segala godaan muncul, maka manusia dituntut untuk kuat dalam keimanan dan menjadikan Allah SWT sebagai satu-satunya pelindung dan tempat Ghazali menyebutkan, alam dunia ini seperti panggung atau pasar yang disinggahi oleh musafir di tengah perjalannya menuju tempat lain. Maka disinilah mereka membekali diri sebelum meneruskan perjalanan menuju tempat menguji keimanan manusia, di dunia ini Allah SWT memberikan garis ketentuan yang harus diikuti oleh manusia agar selamat dan bahagia, baik di dunia maupun di akhirat kelak. 2. Alam barzah, pintu gerbang menuju akhiratIlustrasi ANTARA FOTO/Akbar TadoKetika kematian tiba, manusia pun meninggalkan alam dunia, menuju alam barzah. Alam barzah adalah alam kubur yang merupakan pintu gerbang atau alam perbatasan antara dunia dan anggota Komisi Fatwa Majelis Ulama Indonesia MUI KH Nurul Irfan, manusia yang sudah berada di alam barzah bisa melihat kondisi di alam dunia maupun di alam diperlihatkan keadaan dua alam yakni dunia dan akhirat, disebutkan manusia di alam barzah juga ada yang sudah mendapatkan balasan akibat perbuatannya di dunia. Karena itu ada istilah yang disebut siksa diketahui bahwa alam barzah merupakan pembeda dari alam dunia dan akhirat, seperti disebutkan dalam Surah Ar-Rum ayat 55-56 وَيَوْمَ تَقُوْمُ السَّاعَةُ يُقْسِمُ الْمُجْرِمُوْنَ ەۙ مَا لَبِثُوْا غَيْرَ سَاعَةٍ ۗ كَذٰلِكَ كَانُوْا يُؤْفَكُوْنَArtinya Dan pada hari ketika terjadinya kiamat, orang-orang yang berdosa bersumpah bahwa mereka berdiam dalam kubur hanya sesaat saja. Begitulah dahulu mereka dipalingkan dari kebenaran. QS. Ar-Rum 55 وَقَالَ الَّذِيْنَ اُوْتُوا الْعِلْمَ وَالْاِيْمَانَ لَقَدْ لَبِثْتُمْ فِيْ كِتٰبِ اللّٰهِ اِلٰى يَوْمِ الْبَعْثِۖ فَهٰذَا يَوْمُ الْبَعْثِ وَلٰكِنَّكُمْ كُنْتُمْ لَا تَعْلَمُوْنَArtinya Dan orang-orang yang diberi ilmu dan keimanan berkata kepada orang-orang kafir, “Sungguh, kamu telah berdiam dalam kubur menurut ketetapan Allah, sampai hari kebangkitan. Maka inilah hari kebangkitan itu, tetapi dahulu kamu tidak meyakininya. QS. Ar-Rum 56 Pada saat hari kebangkitan tiba atau Yaumul Ba’as alam kebangkitan, semua makhluk yang ada di alam barzah akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT untuk menuju beberapa alam, sebelum masuk ke kehidupan akhirat surga atau neraka.Di Yaumul Ba’as alam kebangkitan, setiap manusia akan memasuki beberapa alam lain yakni Yaumul Mahsyar hari dikumpulkannya manusia di Padang Mahsyar setelah kebangkitannya, Yaumul Hisab hari perhitungan amal, barulah setelahnya ditetapkan kehidupan akhirat berupa surga dan Alam akhirat sebagai tempat yang kekal bagi manusiaIlustrasi Kisah Nabi. IDN Times/Aditya Pratama Alam akhirat merupakan kehidupan kekal setelah alam dunia. Setiap muslim yang beriman wajib percaya akan adanya alam akhirat, sebagai tempat yang kekal bagi manusia, seperti tercantum dalam Al Qur'an Surah Al-Mu'min atau Surah Ghafir ayat 39يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِArtinya Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan sementara dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal. QS. Surah Ghafir 39Alam akhirat disebut juga sebagai Darul Qarar yakni alam dimana manusia kembali dibangkitkan untuk mendapatkan balasannya, dan saat jasad dan ruh kembali masa ini, kebangkitan kembali manusia dengan tubuh ukhrawinya akan didasarkan pada wujud mental yang membentuk karakter manusia itu. Setidaknya ada enam karakter manusia yang akan dibangkitkan di akhirat kelak yaitu karakter insani, karakter malaikat, karakter setan, karakter binatang, karakter tumbuh-tumbuhan, dan karakter benda padat. Semua karakter ini dibentuk berdasarkan tindakan yang dilakukan manusia selama kehidupan di terkait perbedaan alam dunia, alam barzah, dan alam akhirat di atas dapat kamu pahami dan yakini sebagai seorang muslim yang taat, bahwa kehidupan di dunia hanya sesaat dan kehidupan setelahnya merupakan kehidupan yang Raga Putra Wiwaha
hakikat kehidupan dunia dan akhirat